Oleh AEP KUSNAWAN
HIDUP teratur ciri orang maju. Sebaliknya, hidup tak teratur menandakan pola ketidakmajuan. Mulai teratur dari bangun tidur, makan, bekerja sampai istirahat kembali. Teratur perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan sampai pengontrolan. Tak hanya itu, teratur kehidupan peribadi, keluarga, masyarakat sampai kehidupan bernegara. Implikasi keteraturan ialah lahirnya kedisiplinan, yakni ketaatan terhadap aturan yang berlaku. Tanpa adanya kedisiplinan, sebuah aturan bagaimana pun baiknya tak akan berarti dan berfaedah.
Aturan lalu lintas, misalnya, tanpa adanya kedisiplinan (ketaatan) pemakai jasa lalu lintas, tidak berarti apa-apa, dan yang mungkin ialah, terjadinya kemacetan serta kecelakaan. Pun demikian telah dicabutnya izin perjudian dan semakin kokohnya larangan perjudian, tanpa adanya kedisiplinan, ia tak membawa hikmah apa-apa, selain masyarakat akan tetap berhadapan dengan perjudian.
Suatu hati ada seorang anak gadis yang bertanya kepada ayahnya, “Ayah boleh nggak pacaran?” Ayahnya menjawab, “Boleh asal pacarannya di tempat terang, ditemani muhrim dan tidak saling bersentuhan. Apabila terjadi di luar itu maka bahaya dan Islam melarangnya.
Pada kesempatan lain anak gadis itu bertanya kembali tentang berpakain minim dan seksi. Ayahnya kembali menjawab, “Boleh saja dan tak ada salahnya, asal ia sedang berada di rumah dan di rumah itu hanya ada muhrim yang diperbolehkan melihatnya, bahkan di hadapan suamimu kamu bebas berpakaian sekehendakmu. Di luar itu berbahaya.”
Ketika anak gadis itu membaca hasil penelitian puluhan persen anak gadis di Bandung dan di Surabaya pernah melakukan hubungan intim, kembali bertanya kepada ayahnya. Sang ayah yang seorang kyai itu menjawab santai, “Boleh saja anak gadis dan jejaka melakukan hubungan intim, asalkan mereka terlebih dahulu menikah, dan di luar itu akan berbahaya.”
Kemudian sang ayah memanggil anaknya untuk mendekat dan berkata, “Anakku, harap kamu ketahui Islam itu adalah aturan untuk manusia yang datang dari penciptanya, sesuai dengan karakter kemanusian. Bila saja manusia merasa berat atas sebuah aturan, laksanakanlah semampunya. Sesungguhnya Dia tidak membebankan aturan pada seseorang kecuali sesuai kemampuan. Sesungguhnya Dia Yang Membuat aturan tidaklah kejam. Dia menghendaki agar kita berdisiplin sehingga terhindar dari bahaya yang dapat merugikan dan mengantarkan pada keselamatan. Tidak saja ketika di dunia tetapi di akhirat kelak. Demikianlah hikmah orang yang hidup teratur.”
Aturan solusif
Penerapan sebuah aturan, baik dari Negara dan agama (Islam), bisa bersinergi. Misalnya dalam pelarangan dan pengharaman khamer (minuman keras). Sebenarnya tidak hanya aturan yang berkaitan dengan minuman keras yang dapat membawa keberuntungan. Hampir semua aturan-Nya agar orang yang menaatinya memperoleh kelancaran, kebahagiaan, kedamaian dan keberuntungan. Aturan Islam, tidak hanya melarang. Melainkan ada solusi alternatif untuk mengatur keimanan, tata kehidupan dan pengaturan mana yang salah dan benar. Seperti tercermin pada dialog sang ayah dan anak gadisnya di atas.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan, seorang “Badui” dating pada Rasulullah hendak bertanya. “Ya, Rasulullah, aku senang terhadapmu aku juga senang terhad apa yang diajarkan olehmu (Islam), tetapi aku juga cinta minuman keras, perzinahan dan mencuri. Bolehkan saya masuk Islam ya Rasulallah?” Rasulullah Saw. menjawab, “boleh asal satu saja saya minta untuk engkau perhatikan,”
“Apa itu wahai Rasulullah?” Tanya orang Badui´itu. “Tinggalkanlah berbohong” sabda Rasulullah. Orang “Badui” tadi pun menyetujuinya, karena tidak berbohong dianggapnya ringan. Lama-lama barulah dia menyadari, antara khamer dengan tidak berbohong susah disatukan. Khamer dapat mengakibatkan kemabukan, dan mabuk menjadi salah satu biang berbagai kejahatan. Sementara tak berdusta ialah berbuat jujur dan kejujuran ialah lambang kebaikan. Karenanya tak mungkin kejahatan dan kebaikan dicampuraduk, sebab harus terjadi pengaturan kesempatan.
Pada hari berikutnya barulah Rasulullah Saw. menjelaskan, dalam khamer itu, ada manfaat tetapi lebih besar madaratnya. Sehingga penjelasan ini membuat orang tadi kembali berpikir. Turunlah ayat yang membatasi untuk mabuk, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menegerti apa yang kamu ucapkan” (QS An-Nisaa’ [4]:43).
Kemudian sampailah pada maksud utama diturunkanya aturan, yakni pelarangan meminum minuman keras, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minuman) khamer berjudi dan (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS Al-Maa’idah [5]:90).
Jadi, hidup teratur adalah hidup yang berasal dari luap ketaatan dan kecintaan pada harmonitas kehidupan. Boleh Anda membayangkan kalau di dunia ini tidak ada tata aturan dalam melakukan sesuatu. Kiranya tidak salah kalau dunia ini akan dipenuhi dengan kesengkarutan yang merugikan. Seperti halnya diturunkan khamer secara bertahap untuk menghilangkan kesengkarutan. Pun begitu dengan menjadi manusia disiplin yang taat aturan. Sejatinya dilakukan secara bertahap hingga lahir kesadaran yang membekas sampai akhir hayat. Itulah yang dinamakan dengan hiduplah secara teratur. Wallahu A’lam
Penulis, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, serta Mahasiswa Program S3 Konsentrasi Pendidikan Islam UIN Bandung.
Label: Agama
Label: Agama
Oleh AEP KUSNAWAN, M.Ag
BERDASARKAN data Depkes RI akhir Juni tahun 2007 jumlah orang yang terinfeksi HIV, dilaporkan terdapat di 194 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Secara kumulatif orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia tercatat sebanyak 14.628 orang. Jumlah itupun tiap waktu cenderung terus bertambah. Banyak cara yang dilakukan orang untuk memperingati Hari AIDS, salah satunya ada yang membagikan kondom. Hal itu dilakukan mengingat AIDS menjangkit dan menular antara lain melalui (maaf) “seks bebas”.
Untuk menghindari persebaran Virus HIV, maka diupayakan mencari cara seks bebas yang ”aman” melalui alat pengaman kondom. Ada juga yang memperingati Hari AIDS setia dengan mensosialisasikan untuk tetap setia pada satu pasangan. Sebab dengan kesetiaan pada satu pasangan, lebih terkontrol perilaku seksnya. Hal itu wajar, jika pandangan yang dipakai, AIDS adalah sebagai salah satu penyakit, sehingga yang namanya penyakit selalu dicari obat serta upaya pencegahannya.
Namun pandangan itu mungkin akan menjadi sedikit lain, ketika AIDS tak hanya dipandang sebagai penyakit melainkan sebagai peringatan. Suatu peringatan yang lebih mengajak kepada kesadaran, segala perilaku yang menjadi penyebab timbulnya AIDS merupakan perilaku keliru, yang akan merugikan pelaku dan orang dekat yang dicintainya.
AIDS sebagai peringatan, akan membawa kesadaran ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang keliru, ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Ibarat orang yang mengidap penyakit magh, selain perlu obat, diketahui pula bahwa magh terjadi sebagai peringatan, bagi mereka yang pola makannya tidak teratur. Jadi penyakit magh adalah akibat dari adanya suatu sebab. Maka obat untuk menghindari dan mengobati penyakit magh yang paling paten, tentulah dengan menanggulangi penyebabnya, yaitu dengan menjalankan keteraturan dalam pola makan sehari-hari. Tidaklah cukup dengan obat tertentu, sementara pola makan tak diperbaiki. Sebab magh, hanyalah peringatan, bagi orang yang tidak menjaga keteraturan. Di mana semua anggota tubuh kita menuntut haknya untuk dipenuhi dan dilindungi.
Mengapa begitu? Sebab dunia ini diciptakan penuh dengan keseimbangan, penuh dengan keharmonisan. Siapa yang berjalan dalam keseimbangan dan tata aturan alam sebagaimana kehendak yang menciptakannya, maka ia berada dalam kondisi normal, stabil, sehat dan harmonis. Sebaliknya, siapa yang melanggar tata keseimbangan kehidupan, atau ”bermain api” dengan keteraturan itu, lambat laun akan berbenturan dengan yang lainnya, sehingga dapat melahirkan peringatan, ancaman, penyakit dan kerusakan pada stabilitas kehidupan.
Tata kehidupan yang dikehendaki oleh Pencipta alam, Allah Swt. terdapat pada alam itu sendiri (ayat Kauniyah), dan ada yang tertera sebagai bahan bacaan (ayat Qauliyah). Dalam pandangan yang lurus, antara keduanya tidak mungkin terdapat perbedaan, karena hadir dari ”produsen” yang sama, yaitu Allah. Jika begitu, maka kaitannya dengan peringatan Hari AIDS mengapa harus membagikan kondom ke masyarakat luas untuk menghindari AIDS?
Padahal ada kata kunci yang patri: JANGAN ENGKAU DEKATI ZINA. Mengapa harus dengan jangan gonta-ganti pasangan? Padahal ada idiom: JIKA SUDAH SAMPAI, MAKA SEGERALAH MENIKAH”.
Itulah salah satu kata kunci dari Yang Membuat dan menata aturan alam. Sosialisasi TIDAK BERZINA tentu lebih paten dari kondom, serta sosialisasi SEGERA MENIKAH tentu lebih paten dari hanya sekedar tidak gonta-ganti pasangan. Sebab dibalik pembagian kondom ke masyarakat luas, masih ada peluang orang untuk tetap melakukan Seks bebas.
Dibalik tidak gonta-ganti pasangan, masih ada celah untuk melakukan zina. Dan jika masih melakukannya, maka berarti ia masih tetap sedang ”bermain api”, penuh dengan resiko, dan tetap tidak steril dari kemungkinan terjangkitnya sebuah ”Monster” peringatan bernama AIDS.
Kembali pada normalitas yang ada pada keseimbangan alam yang sesuai dengan tata aturan agama, tentu merupakan resep yang paling aman untuk menghindari dan mengobati hadirnya AIDS. Itulah yang diajarkan Agama, dan mahasiswa maupun alumni jurusan BPI mesti mensosialisasikannya. Wallahua’lam
Penulis, Sekretaris Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung, serta Mahasiswa Program S3 Konsentrasi Pendidikan Islam UIN Bandung.
Label: Agama
Label: Agama
Oleh SUKRON ABDILAH